paman tyo on Sep 18th 2008 11:50 am

Betul, bukan mug gue, bukan mug saya pribadi, tapi saya sering memakainya untuk ngopi. Di kafe? Bukan. Itu lounge sebuah kantor di Jakarta Selatan, tempat saya kadang berkantor. Berlantai semen, dengan interior merah, penerangan ruangan bersuasana oriental itu cukup mengandalkan sinar matahari. Hemat energi — kalau siang. Di sana ada mini pantry untuk bikin minuman. Wi-fi juga tersedia. Nah mug itu banyak kembarannya, dan saya suka karena modelnya. Polos, simpel, dekorasi cuma di bagian dalam. Ayo, back to work, jangan ngeblog melulu. 
Filed in Milik orang lain | Comments (5)
slamet on Jul 16th 2008 11:27 pm

Ini mug dari sebuah perhelatan keluarga. Ketika dikeluarkan dari kotak tampaklah sebuah mug bermotif merak dengan garis keemasan (termasuk di pegangannya). Mugnya punya tutup. Selain itu, setelah dibuka, mug ini punya saringan. Oh cocoknya untuk teh. Memang sih teh lebih enak di cangkir rendah, tapi di mug yang lebih tinggi pun tidak soal. Oh ya, kopi juga lebih enak di cangkir rendah. Tapi nggak pentinglah. Buktinya ada saja orang yang minum air putih dari mug kan? Eh saringan keramik ini juga bisa ditumpangi tisu saringan kopi, buat memfilter kopi tubruk. Kenapa dinamai kopi tubruk ya? Tebak, bikinan mana mug ini. Tulisannya banyak salah cetak sih.


Filed in Hadiah, Unik | Comments (2)
slamet on Jul 16th 2008 10:41 pm

Oh tidak! Mug ini bukan untuk ajing! Saya melihatnya ketika sedang terburu-buru membeli tiga kantong makanan anjing saya, padahal tadi Hero sudah mau tutup. Di rak makanan anjing saya lihat mug ini. Saya kira bonus. Ternhyata salah tempat. Akhirnya harus membayar Rp 7.000-an. Kenapa saya tetap membelinya? Karena suka. Mengapa suka? Karena dekorasinya lembut, tidak menonjol, dan sepertinya puitis. Bagaimana jika jadi bahan tertawaan karena pria segagah dan sejantan saya (hahahahahaha!) memakai mug bunga? Peduli amat. Emang ada yang peduli, sampai ngetawain segala? Nggak. Lebih baik ge-er daripada minder.

Filed in Beli, Unik | Comments (0)